Senin, 21 Januari 2019

Masyarakat Indonesia Bisa Saksikan Fenomena ‘Supermoon’ Nanti Malam


RADARMETROPOLIS: Jakarta - Pada Senin (21/1/2018) malam, masyarakat Indonesia akan dapat menyaksikan fenomena bulan purnama super atau ‘supermoon’. Sayangnya, gerhana bulan kemerahan atau yang disebut beberapa kalangan sebagai ‘super blood wolf moon’ tidak akan bisa dilihat oleh masyarakat kita, karena fenomena tersebut tidak bisa dilihat di Indonesia.

Gerhana bulan tersebut sebenarnya akan mulai terjadi pada pukul 09.30 WIB. Pada pagi ini hanya bisa dilihat dari wilayah yang masih malam seperti Amerika, Eropa, Afrika, dan di Pasifik Tengah. Hal ini diungkapkan oleh astronom Avivah Yamani,  kepada BBC News Indonesia.

Apa yang dimaksud dengan gerhana bulan total?

Gerhana semacam ini terjadi ketika Bumi bersejajar dengan Matahari dan Bulan. Pada situasi ini, Matahari berada di balik Bumi, dan Bulan bergerak ke dalam bayangan Bumi.


Apakah Bulan akan terlihat merah?

Ya. Beberapa kalangan menyebut fenomena ini sebagai ‘super blood wolf moon’. Kata ‘super’ merujuk pada fakta bahwa Bulan akan berada pada jarak terdekat dengan Bumi sehingga akan tampak lebih besar dari biasanya di angkasa.

Adapun kata ‘wolf’ atau serigala merujuk dari sebutan terhadap bulan purnama pada Januari, yaitu ‘wolf moon’. “Sedikit cahaya matahari dibiaskan oleh atmosfer Bumi dan mencapai Bulan, membelokkannya ke sekitar Bumi. Cahaya merah dalam jumlah sedikit ini menyinari Bulan, cukup bagi kita untuk melihatnya,” papar Walter Freeman, asisten profesor di Universitas Syracuse, AS.


Kapan dan di mana fenomena ini bisa disaksikan?

Gerhana bulan mulai pukul 09.30 WIB dan berakhir pada 14.49 WIB. Akan tetapi, publik Indonesia bisa menyaksikan bulan purnama super alias ‘supermoon’ pada Senin (21/1) dan Selasa (22/1).

“Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya,” kata Avivah Yamani.

Meski demikian, Avivah mengingatkan, faktor cuaca amat menentukan untuk menyaksikan ‘supermoon’.
“Untuk Bandung yang hujan dan berawan tebal, sepertinya akan susah untuk bisa membedakan bulan super ‘yang lebih terang 30%’ dari bulan purnama saat di titik terjauh dari Bumi.”

“Kalau hujan dan awan, bulan tidak nampak. Kalau nampak di balik awan pun kita tidak bisa melihat bulan lebih terang,” paparnya.


Bagaimana melihatnya?

Jika cuaca bagus, publik dapat menyaksikan bulan purnama super dan gerhana bulan dengan mata telanjang secara aman. Sebab berbeda dengan gerhana matahari, cahaya bulan purnama super dan gerhana bulan lebih redup sehingga aman untuk melihatnya tanpa peranti khusus. (khr)

0 comments:

Posting Komentar