Jumat, 17 April 2020

Meski Kena Badai Corona, Kadin Jatim Ungkap Industri di Jatim Masih Bisa Bertahan



RADARMETROPOLIS: Surabaya – Meski terkena dampak pandemi Covid-19 kondisi industri di wilayah Jawa Timur masih bisa bertahan dan tetap kondusif. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur, Adik Dwi Putranto.

Kondisi tersebut disampaikan setelah Kadin melakukan koordinasi dengan sejumlah pelaku usaha terkait dampak Pandemi Corona Virus atau Covid-19 terhadap kinerja ekonomi Jatim, utamanya sektor logistik laut dan jalur kepulauan, yang digelar di Graha Kadin Jatim.

Diungkapkan lebih lanjut oleh Adik, bahwa memang ada beberapa yang terdampak dan mengalami penurunan kinerja, tetapi penurunan tersebut masih dalam kondisi wajar dan bisa diterima. Untuk itu, ia berharap pemerintah Provinsi Jatim tidak menerapkan kebijakan lockdown karena dampaknya justru akan memperburuk kondisi masyarakat, utamanya masyarakat kelas bawah.

Menurutnya, pemberlakuan lockdown harus hati-hati dan harus ditimbang dengan benar. Karena lockdown akan merugikan banyak pihak.

Para pimpinan asosiasi pengusaha hadir dalam acara koordinasi yang digelar oleh Kadin tersebut, diantaranya Ketua Umum DPD Gabungan Importir Seluruh Indonesia (Ginsi) Jatim Romzi Abdullah, Ketua Umum Indonesian National Shipowners Association (INSA) Jatim Steven H Lasawengen, dan Ketua DPW Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur Jatim Henky Pratoko.

Ketua Umum DPD Ginsi Jatim Romzi Abdullah, memberikan pandangan yang senada dengan pimpinan Kadin Jatim. Menurutnya lockdown akan sangat memberatkan masyarakat kelas bawah. Untuk itu ia berharap berharap pemerintah tidak mengambil langkah lockdown.

Romzi menilai kondisi arus barang impor saat ini sudah mulai lancar pasca Tiongkok membuka kembali perdagangan mereka. Dengan mulai lancarnya arus barang impor dari Tiongkok, diharapkan bahan baku industri bisa terpenuhi.

Di saat awal Wuhan terkena dan ditutup, impor bahan baku dari Tiongkok memang distop. Tetapi para pengusaha yang tergabung dalam Ginsi masih dapat bahan baku dari Asia, seperti dari Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Korea, meskipun tidak sebanyak yang dari Tiongkok. Di saat bahan baku dari Asia berkurang, Tiongkok sudah dibuka.

“Nah, harapan kami ini akan semakin stabil. Kapal-kapal dari Tiongkok sudah mulai berdatangan, ada 16 kapal besar, bahan baku tidak berhenti," jelasnya.

Hanya saja produksi tidak seperti biasanya, dikarenakan industri di Jatim sudah mulai melakukan social distancing. Kalau biasanya jam kerja karyawan bisa tiga shift, maka sekarang hanya satu shift saja. (rcr)

0 comments:

Posting Komentar