Sabtu, 11 April 2020

Tidak Hanya Fokus Covid-19, Jatim Juga Harus Atasi Demam Berdarah



RADARMETROPOLIS: Surabaya - Angka kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jawa Timur terus meningkat. Berdasarkan data terakhir yang diperbarui pada Rabu (08/04/2020) lalu, penderita DBD di Jatim meningkat menjadi 3.280 orang. Dimana 26 orang di antaranya meninggal dunia. Dinkes Jatim meminta masyarakat tetap melaksanakan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) meski juga harus menghadapi pandemi Covid-19.

Kasus DBD tertinggi terjadi di Kabupaten Malang dengan 587 kasus. Menyusul Jember (300), Trenggalek (242),  dan Pacitan (208). Sedang kematian tertinggi terjadi di Kabupaten Malang, Ngawi, dan Trenggalek.

Kenaikan angka penderita dan kematian tersebut tergolong tinggi. Sebab data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur per Januari 2020 lalu masih sebanyak 811 orang dengan angka kematian sebanyak 6 orang. Kemudian saat diupdate pada 13 Maret lalu, jumlah penderita mencapai 2.016 kasus dan angka kematian 20 orang.

Berbagai upaya untuk menganggulangi serangan DBD tersebut telah dilakukan oleh Dinkes Jatim. Diantaranya adalah penggiatan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) melalui aksi 3M Plus dengan melaksanakan gerakan satu rumah satu jumantik di semua wilayah di setiap kabupaten/kota. jelas

Kepala Dinkes Jatim, dr Herlin Ferliana, meminta hendaknya masyarakat tetap melaksanakan PSN meski di situasi pandemi Covid 19 saat ini. Hal ini agar angka penderitanya tidak meningkat. Karena seseorang tidak akan terkena DBD jika tidak ada nyamuk.

"Saya harapkan upaya ini serempak dan berkesinambungan, dan tidak boleh ada yang tidak peduli dengan ini, semua harus melakukan," kata Herlin.

Upaya PSN paling efektif adalah melakukan 3M plus. Di antaranya menutup tempat penampungan air, menguras tempat penampungan air, menyingkirkan/memanfaatkan barang bekas, plus menghindari gigitan nyamuk.

Tindakan ini harus dilakukan setiap satu minggu. Mengapa PSN ini perlu dilakukan per minggu, dikarenakan proses kembang biak nyamuk Aedes Aegepty sangat cepat.

Menurut Herlin, pada saat bertelur nyamuk akan menghasilkan 100 hingga dua ratus telur. Telur itu bisa hidup di air. Tiga hari kemudian nyamuk akan menjadi jentik.

Setelah menjadi jentik, dua hari kemudian nyamuk bisa berubah menjadi kepompong. Lima hari setelahnya menjadi nyamuk kecil, dan satu jam setelahnya menjadi nyamuk dewasa.

"Perkembangannya begitu cepat,” jelas Herlin. Karena itulah sumber air harus rajin dikuras, agar bakal nyamuk mati sebelum menjadi nyamuk.

Atas dasar fakta itulah mengapa Dinkes Jatim lebih menyarankan untuk melakukan PSN daripada fogging, yang hanya membunuh nyamuk dewasa. (sr)

0 comments:

Posting Komentar