Jumat, 29 Januari 2021

Jatim Sukses Kembangkan Manajemen Tanaman Sehat, Hadi Sulistyo: Dapat Atasi Degradasi dan Konversi Lahan Pertanian Jatim


 

RADARMETROPOLIS: Surabaya – Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh sektor pertanian Jatim pada saat ini diantaranya adalah degradasi lahan, konversi lahan pertanian, penurunan produktivitas, perubahan iklim, penggunaan pupuk anorganik dan pestisida kimia sintetis serta adanya serangan hama dan penyakit tanaman. Hal ini dapat diatasi dengan penerapan Manajemen Tanaman Sehat atau MTS. Demikian diungkapkan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim, Hadi Sulistyo.

Berbagai pihak menilai Jawa Timur sukses mengembangkan Manajemen Tanaman Sehat atau MTS. MTS adalah semua cara teknik budidaya tanaman yang kompatibel sehingga dapat meningkatkan kesehatan dan produktivitas tanaman.  

Sebagaimana diketahui, keberhasilan budidaya tanaman pangan maupun hortikultura tidak terlepas dari adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman atau OPT.

Kehadiran OPT mengakibatkan menurunnya hasil panen petani. Oleh karena itu perlu adanya penanganan terhadap OPT yang menyerang tanaman petani. Mengatasi serangan OPT tersebut perlu dilakukan upaya dalam pengelolaan sesuai prinsip Pengendalian Hama Terpadu atau PHT, salah satunya adalah dengan Manajemen Tanaman Sehat atau MTS.

“Kegiatan MTS ini merupakan upaya sosialisasi kepada petani agar mau menerapkan budidaya tanaman sehat berdasarkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT), mulai dari pengelolaan agroekosistem di suatu hamparan dengan terintegrasi, berkelanjutan hingga aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya,” kata Hadi Sulistyo, Kamis (28/01/2021).

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim itu pun menjelaskan bahwa MTS dapat meningkatkan produktivitas tanaman pangan maupun hortikultura sekaligus menekan biaya produksi sampai 30 persen.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa penerapan MTS tersebut tidak bisa dilakukan secara parsial.

“Oleh karena itu desa menjadi pusat kegiatan yang disebut dengan PKPM,” ungkap Hadi.

PKPM yang dikatakan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan tersebut adalah kependekan dari Posko Kedaulatan Pangan Mandiri.

“Dengan MTS, petani mampu mengamati serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) lebih dini, dan tahu cara pengendaliannya. Sehingga tidak perlu menggunakan pestisida kimia. Selain itu diharapkan mampu membuat sendiri pupuk organik, pestisida nabati, hingga Agens Pengendali Hayati (APH),” kata Hadi.

Untuk memantau pelaksanaan program tersebut pihaknya melakukan Temu Lapang Hasil Penerapan MTS di tiga desa di Madiun, yaitu Desa Klorogan, Desa Slambur, dan Desa Sumberejo pada 19 November 2020 dengan luas hamparan masing-masing 50 ha.

Sementara itu di Desa Besur, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan penerapan MTS mencakup tiga hal, yaitu pengendalian OPT dengan rekayasa agroekosistem, penguatan sumber daya manusia atau kelompok tani, dan desa sebagai pusat aplikasi kelompok tani yang ada.

 

 

Kelompok tani di desa tersebut saat ini sudah memiliki laboratorium sendiri, sehingga dapat membuat agens pengendali hayati sendiri.

Petani di Desa Besur dulunya harus mengeluarkan uang Rp 1 juta sampai dengan Rp 1,5 juta untuk membeli pupuk setiap musim/ha lahan budidaya. Petani bisa mengurangi ketergantungan pada pupuk dengan memanfaatkan agens pengendali hayati yang dapat diproduksi oleh para petani sendiri, dan harganya lebih ekonomis dengan mengganti biaya kemasan sebesar Rp 5.000/botol.

Para Petani di Desa Besur setelah mengaplikasikan MTS mereka dapat panen 3 kali setahun dengan produktivitas padi 8 ton/ha. Agar pelaksanaan MTS berjalan dengan sangat baik, maka seluruh komponen di tingkat desapun harus dilibatkan, seperti pemerintah desa harus berperan aktif membangun kesadaran petani untuk melakulan MTS pada lahan persawahan milik para petani sendiri.

Keikutsertaan pihak pemerintah desa dalam proses MTS tersebut mulai dari pengolahan lahan, tanam, pengendalian organisme penganggu tanaman dengan agen pengendali hayati, aplikasi alsintan, sampai dengan waktu panen. Agar pelaksanaan Manajemen Tanaman Sehat dapat dilaksanakan dengan benar oleh para petani di sana.

MTS juga telah dikembangkan di Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jatim di lahan seluas 150 ha.

Hadi berharap program MTS bisa diterapkan juga di daerah lain agar petani bisa menjaga produksi tanaman pangan dan hortikultura pada taraf tinggi, stabil, dan berkelanjutan. (ADV)

0 comments:

Posting Komentar