Jumat, 18 Desember 2020

Hindari Krisis Pangan di Masa Pandemi, Distan Jatim Gerakkan Masyarakat Andil Jaga Ketahanan Pangan


 

RADARMETROPOLIS: Surabaya – Untuk menghindari krisis pangan akibat tekanan pandemi Covid-19, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur terus memacu berbagai program yang bisa menjaga dan meningkatkan ketahanan pangan. Diantaranya ada yang dilakukan dengan menjadikan masyarakat sebagai ujung tombak. Masyarakat pun dapat ikut andil dalam menjaga ketahanan pangan.

“Selain peran pemerintah dan petani, masyarakat juga dapat ikut andil dalam menjaga ketahanan pangan untuk menghindari krisis pangan. Masyarakat memiliki peluang untuk membangun kedaulatan dan kemandirian pangan melalui urban farming dari metode hidroponik,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Hadi Sulistyo, Jumat (18/12/2020).

Pekarangan Pangan Lestari (Peka Pari) adalah salah satu program yang dapat menggerakkan dan memberdayakan masyarakat dalam menyediakan pangan secara mandiri sekaligus menekan biaya hidup sehari-hari.

Menurut Hadi, kegiatan Peka Pari merupakan kegiatan pemberdayaan kelompok masyarakat untuk melakukan kegiatan pembudidayaan berbagai jenis tanaman berumur pendek, seperti misalnya sayur-sayuran, buah-buahan, umbi-umbian, dan toga serta budi daya ikan lele dan ternak ayam. Yang mana hal itu dilakukan melalui kegiatan kebun bibit, demplot, pertanaman, dan pasca panen serta pemasaran.

“Peran penyuluhan pertanian dalam pemberdayaan Peka Pari ini sangatlah penting untuk meningkatkan keberhasilan kelompok,” terang Hadi.

Hasil pekarangan itu bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga tanpa harus keluar rumah. Hal ini sekaligus dapat menghemat pengeluaran rumah tangga.

Menurut Hadi,  bisa memenuhi kebutuhan pangan tanpa harus keluar dari rumah dan menghemat pengeluaran adalah dua hal yang sangat membantu masyarakat menghindar dari dampak Kesehatan maupun ekonomi yang tidak menguntungkan dari pandemi.

“Berdasarkan kajian ekonomi, sangat membantu ekonomi rumah tangga dalam menghemat pengeluaran Rp750.000 hingga Rp1,2 juta per rumah tangga per bulan,” ujarnya.

Lebih dari itu Hadi berpandangan bahwa masyarakat tidak hanya dapat memanfaatkan hasil pekarangan tersebut untuk konsumsi, tetapi juga bisa dijadikan sebagai sumber pendapatan.

“Sebagian hasil pekarangan juga bisa dipasarkan sebagai sumber pendapatan yang dipasarkan melalui pasar modern dengan harga lebih tinggi, ataupun untuk hasil tanaman toga digunakan untuk minuman sehat yang banyak dicari masyarakat saat ini,” tandas Hadi. (ADV)

0 comments:

Posting Komentar