Selasa, 07 November 2017

Indutri Mamin Biang Kerok Bocornya Gula Rafinasi ke Pasar


RADARMETROPOLIS: Jakarta - Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita, menyebut bahwa industri makanan dan minuman (mamin) sebagai biang kerok bocornya gula rafinasi ke pasar tradisional. Hal ini menyebabkan pemerintah kesulitan menghitung neraca gula dan kebutuhan konsumsinya.

"Iyalah, yang bocorkan! Siapa lagi?" kata Enggartiasto di kantornya, Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (6/11/2017).

Dikatakan Enggar, sedikitnya ada 300 hingga 500 ribu ton gula rafinasi yang bocor ke pasar tradisional setiap tahun.

Hal itu menyebabkan pemerintah mengalami kesulitan dalam menghitung berapa neraca gula dan kebutuhan konsumsinya setiap tahun.

"Ini penyimpangan. Karena itu bagaimana kita mau tahu neraca gula dan berapa besar kebutuhan konsumsi," kata Enggar.

Mengenai masalah klasik tersebut, Enggar memilih untuk menyerahkannya kepada pihak Bareskrim Polri untuk mengusutnya.

Ia mengungkapkan, pihaknya meminta kepada polisi untuk tidak hanya menyita gudangnya atau menutup industrinya, tetapi dipidanakan juga pelakunya. "Jangan hanya cukup disita atau ditutup industrinya, tapi ditahanlah," tandas Enggar.


Perihal kebocoran gula rafinasi tersebut, ia mengaku cukup kecolongan. Dalam hal gula rafinasi, pihaknya hanya memberikan izin berdasarkan rekomendasi yang sudah ada. "Ada kontraknya, ada kuotanya. Ya udah, keluarin untuk itu," jelasnya. (rez)

0 comments:

Posting Komentar