Sabtu, 29 Juli 2017

APGRI: Kebijakan Pemerintah Penyebab Utama Garam Langka dan Mahal


RADARMETROPOLIS: (Pamekasan) - Kebijakan pemerintah yang tidak akurat dinilai sebagai salah satu penyebab utama kelangkaan stok sekaligus meroketnya harga jual garam dalam setahun terakhir. Penyebab lainnya adalah faktor cuaca. Hal ini mengakibatkan petani gagal panen selama 2016 lalu.

"Pada 2016 lalu kita gagal panen karena faktor cuaca, saat itu masuk katagori kemarau basah atau lamina. Bahkan gagal panen saat itu mencapai 106 ribu ton dalam skala nasional," kata Sekjen Asosiasi Petani Garam Republik Indonesia (APGRI) Faisol Baidowi, Sabtu (29/7/2017).

Terkiat dengan kebijakan Faisol menilai bahwa ketetapan impor untuk memenuhi kebutuhan nasional justru sangat tidak akurat. Garam konsumsi seharusnya impor sebanyak 256 ribu ton, justu hanya hanya dilakukan sebanyak 75 ribu ton atau sekitar 25 persen dari rencana importasi. Sehingga wajar jika saat ini mengalami kelangkaan garam.

Seharusnya pemerintah lebih bijak menyikapi berbagai kemungkinan, khususnya dalam persoalan garam. "Bagaimanapun alam tidak bisa disalahkan, karena itu sudah menjadi kehendak Tuhan. Tapi antisipasi yang seharusnya dilakukan, justru tidak direalisasikan dengan baik," imbuhnya.

"Regulator itu berupaya menjadikan keseimbangan agar semua pihak tidak dirugikan, sehingga kita tidak selalu bergantung dengan melakukan impor garam," kata Faisol.

Selain itu, pihaknya meminta agar pemerintah kembali mengkaji ulang untuk melakukan impor. "Pemerintah perlu hati-hati melakukan impor dan perlu dijaga, karena khawatir terjadi benturan datangnya garam impor dengan panen produksi petani ataupun PT Garam," sambung Faisol.

"Apalagi saat ini produksi garam nasional sudah mulai, sekalipun kemarin sempat ada gangguan produksi akibat gangguan hujan. Sehingga langkah konkrit jelas harus segera dilakukan guna mengantisipasi benturan impor dan masa panen," jelasnya.

Pihaknya juga mengimbau agar pemerintah melakukan dua langkah antisipasi sekaligus. Masing-masing kebijakan impor sekaligus dengan skala pendistribusian serta prediksi akurat dari BMKG seputar kondisi cuaca.

"Sebelumnya kami mengusulkan agar segera dilakukan importasi, tapi pendistribusian menungga kondisi yang tepat agar tidak berbenturan dengan hasil panen. Termasuk juga harus ada prediksi akurat tentang musim kemarau dari BMKG, apa saat ini sama dengan tahun lalu atau tidak," tegasnya.

Jika barang impor datang secara bersamaan dengan masa panen petani, pemerintah juga harus sigap menerapkan kebijakan yang tentunya tidak merugikan terhadap petani maupun PT Garam. "Kalau bersamaan barang impor perlu ditangguhkan sampai akhir masa panen, biar petani tidak dirugikan," pintanya.


"Bagaimanapun produksi nasional perlu dikedepankan dalam pendistribusian untuk memenuhi pasar konsumsi dan saat ini memang wajar terjadi kelanggaan. Jadi kalau sekarang silakan impor, tapi hati-hati," pesan Faisol. (ltr) 

0 comments:

Posting Komentar