Jumat, 28 Juli 2017

Agar Tidak Kukut, Pemkot Bekali Keterampilan Pemilik Toko Kelontong


RADARMETROPOLIS: (Surabaya) – Agar tidak mudah kukut (bangkrut) Pemerintah Kota Surabaya memberi pelatihan pemasyarakatan kewirausahaan toko kelontong berbasis koperasi kepada 205 pedagang kelontong di Surabaya, Jumat (28/7/2017). Pelatihan yang digelar di gedung Siola ini dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan dan profesionalisme dalam berdagang. Dengan demikian pedagang toko kelontong di Surabaya diharapkan mampu bersaing dengan toko-toko modern.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Surabaya, Arini Pakistyaningsih, mengatakan acara tersebut merupakan tahap kedua. Sebelumnya, pada Maret 2017 lalu, Pemkot juga sudah mengumpulkan 20 pedagang kelontong untuk mendapatkan edukasi dan pencerahan yang digelar di Graha Sawunggaling.

“Tahap satu dulu untuk uji coba. Target kami, tahun ini ada tiga kali acara seperti ini. Harapannya, tahun ini sedikitnya ada 250 pedagang kelontong dari total 2065 pedagang kelontong se-Surabaya yang mendapatkan pelatihan,” ujar Arini Pakistyaningsih.

Menurut Arini dinasnya mendapatkan tugas khusus dari Walikota Surabaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pedagang kelontong di Kota Pahlawan. Ada harapan besar dari walikota agar para pedagang kelontong di Surabaya semakin profesional dan omset dagangannya semakin besar.

“Ibu ingin mereka lebih maju dari sebelumnya. Karena itu mereka kami dampingi. Karena kalau tidak ada pendampingan dari dinas dan juga dibekali keterampilan, berdagangnya akan begitu terus. Dan yang dikhawatirkan, usaha mereka akan tergilas. Tidak boleh ada yang kukut (bangkrut) karena minimnya pengetahuan berwirausaha,” jelas Arini.

Dan wujud konkret dari pendampingan tersebut, Dinas Perdagangan memiliki mantri ekonomi. Hingga kini kurang lebih ada 70 an mantri ekonomi yang tersebar di 31 kecamatan di Surabaya.

Arini menjelaskan, mantri ekonomi ini merupakan staf yang dilatih khusus untuk mendampingi pedagang toko kelontong. Satu orang mantri ekonomi bertugas mendampingi 10 pedagang toko kelontong. Oleh mantri ekonomi, pedagang akan dipantau kemampuan mereka dalam melakukan manajemen keuangan, manajemen retail ataupun manajemen distribusi.

“Kemudian kami hubungkan langsung dengan para pemasok komoditas. Seperti petani, peternak, dan pabrikan langsung untuk bisa mendapatkan harga murah. Itu mereka harus pertahankan. Kalau kulakannya murah, jualannya juga harus eceran harga tertinggi, tidak boleh jual lebih mahal. Tujuannya, stabilitas harga di Surabaya akan tercapai,” sambung Arini.

Acara tersebut dibuka oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Ia bersemangat memotivasi para pedagang kelontong untuk maju bersama dalam wadah koperasi. Walikota mengibaratkan lidi yang lemah bila hanya sendirian tetapi bisa kuat bila bergabung bersama. Terlebih dalam menghadapi persaingan usaha dengan toko modern yang tentu saja memiliki modal lebih besar dibanding toko kelontong.

“Panjenengan semua diundang ke sini agar bisa maju bersama. Saya ingin panjenengan sukses. Kami menfasilitasi untuk memberikan pelatihan keterampilan, tinggal panjenengan mau atau tidak. Karena, untuk apa saya membangun Surabaya kalau warganya hanya menjadi penonton di kotanya sendiri,” ujar Risma.

Risma juga mengingatkan para pedagang kelontong untuk pandai mengelola keuangan. Karenanya, dalam pelatihan yang diberikan Pemkot, diajarkan cara mengelola uang dengan benar.

“Kalau dagangan laku, jangan uangnya dihabiskan untuk kebutuhan lain. Pikirkan bagaimana mengembangkan usaha. Kalau bisa untuk kulakan tambahan, mengapa tidak,” pesannya.

Walikota lantas mencontohkan beberapa warga yang telah berhasil dalam berwirausaha melalui program Pahlawan Ekonomi yang digagas Pemkot Surabaya sejak beberapa tahun lalu. Walikota menegaskan bahwa keberhasilan tidak langsung datang, tetapi acapkali diawali dengan kegagalan.


“Saya pernah ke Silicon Valley di Amerika dan berbincang dengan beberapa orang disana. Ada yang mengaku baru berhasil setelah 102 kali mencoba. Artinya dia pernah 101 kali gagal. Karenanya, panjenengan jangan mudah menyerah. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita terus berusaha,” kata Risma. (sr)

0 comments:

Posting Komentar