Rabu, 06 September 2017

Jatim Alami Darurat Kekeringan, Pemprov Dropping Air


RADARMETROPOLIS: Surabaya - Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyatakan sejumlah wilayah di Jatim dilanda kekeringan. Sebanyak 422 desa di 27 kabupaten yang mengalami kekeringan. Ini karena bulan September 2017 merupakan puncak musim kemarau.

Salah satu upaya Pemprov Jatim untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengirimkan bantuan berupa dropping air bersih. Upaya lain yaitu menyalurkan air untuk wilayah yang punya saluran pipa air serta sumur air dalam.

“Bulan ini puncak kekeringan. Sekarang yang paling kebingungan air, ada di 130 desa di 23 kabupaten. Kami akan kirim bantuan air bersih. Kalau ini jadi dibiayai Rp 58 miliar, maka total desanya turun jadi tinggal 201 desa. Jumlah 201 desa ini sudah nggak bisa diapa-apain, air memang nggak ada dan pipa nggak mungkin. Ini yang akan kita kirim bantuan air pakai tangki,” papar Soearwo, Rabu (6/9/2017).

Sementara sejumlah wilayah lainnya yang mengalami kekeringan diluar total 201 desa diberikan bantuan pipanisasi serta menghidupkan kembali sumur air dalam. Meski demikian, baru tiga kabupaten yang mengajukan surat kepada Pemprov Jatim terkait bantuan pengadaan air bersih.

“Yang ajukan surat baru tiga (kabupaten). Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Pasuruan, satunya lupa. Madura malah belum ada yang mengajukan. Pengajuan surat ini penting karena dengan mengacu ini statusnya berbunyi darurat, sehingga uangnya (bantuan) bisa dikeluarkan,” imbuhnya.

Diketahui, jumlah desa yang mengalami kekeringan di Jatim untuk tahun 2017 ini mengalami penurunan dari awal sebanyak 541 desa pada tahun 2015. Sedangkan untuk tahun 2016 tidak ada wilayah di Jatim yang mengalami kekeringan karena tidak ada kekeringan, efek dari musim kemarau basah.

Ditambahkan Kabiro Humas dan Protokol Setdaprov Jatim Benny Sampirwanto peta kekeringan di Jatim berdasarkan edaran dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Pemprov menerima surat dari BMKG 4 September 2017. Berdasarkan surat tersebut, musim kemarau terjadi di sebagian wilayah pada pertengahan Agustus dan puncaknya pada bulan September. Pada Oktober adalah masa transisi atau pancaroba, dan musim hujan mulai pada bulan November,” kata Benny.


Di bulan September ini, BMKG juga memprediksi curah hujan yang hanya mencapai 0-100 mm. Pada bulan Oktober nanti diprediksi mulai memasuki musim hujan, tapi hanya akan turun di sebagian kecil wilayah Jatim. Khususnya bagian selatan dengan curah hujan berkisar antara 0-400 mm. (sr)

0 comments:

Posting Komentar