Jumat, 08 September 2017

Residivis Pil Koplo Beralih ke Sabu-Sabu, Ditangkap!


RADARMETROPOLIS: Sidoarjo - Taufan Febri Asmoro Putro, dibekuk petugas Satreskoba Polresta Sidoarjo, Selasa malam (5/9). Ia diamankan dikarenakan menjadi pengedar narkoba jenis sabu-sabu (SS). Barang bukti yang diamankan polisi cukup banyak, yakni 7,18 gram.

Warga Desa Balongsari, Magersari, Mojokerto itu sebelumnya pernah tersandung perkara perdagangan pil dobel L atau pil koplo sepuluh tahun lalu. Ia saat itu dijebloskan ke Lapas Kelas II B Mojokerto. Namun, sekeluar dari penjara tidak insaf, Taufan bahkan beralih menjadi pengedar sabu-sabu.

Kasatreskoba Polresta Sidoarjo Kompol Sugeng Purwanto menyatakan, tersangka merupakan pengedar yang beroperasi di wilayah perbatasan Kota Delta. Beberapa hari setelah melakukan penyelidikan, petugas menggerebek tempat tinggalnya.

“Gerak-geriknya sudah kami awasi. Begitu yang bersangkutan lengah, kami sergap,” ujarnya kemarin (7/9).

Taufan yang sedang tiduran di kursi ruang tamu langsung gelagapan melihat polisi datang. Ia pun tidak bisa mengelak ketika petugas melakukan penggeledahan.

“Ditemukan enam poket sabu-sabu di dalam lemari kamar,” ujar Sugeng. Taufan pun digelandang ke mapolresta.

Di hadapan penyidik, pria yang tidak punya pekerjaan tetap itu mengaku belum lama menjadi pengedar. Taufan berdalih baru tiga bulan menjalankan bisnis haram tersebut. Ia mengaku bahwa narkoba berbentuk kristal itu dibeli dari YI, temannya yang sekarang masih menjadi buron polisi.

“Dikirim secara ranjau setelah transfer uang,” kata Taufan.

Taufan membeli dengan harga Rp 1,1 juta per gram. Ia lantas menjualnya dengan mematok keuntungan antara Rp 50-100 ribu. “Yang penting cepat laku. Pembelinya enggak mesti, kira-kira tiga sampai empat kali transaksi seminggu,” katanya.

Bapak satu anak itu mengungkapkan, ia pernah vakum dari dunia hitam narkoba setelah bebas dari penjara. Namun, ikhtiarnya tidak bertahan lama. Dua tahun lalu ia memergoki istrinya selingkuh. Taufan merasa frustrasi. Ia menjadikan SS sebagai pelarian.

“Dulu hanya memakai. Baru tiga bulan menjual karena kepepet kebutuhan hidup,” dalihnya.


Anak ke-2 dari 4 bersaudara itu mengaku sebagai tulang punggung keluarga bersama kakaknya. Bapaknya meninggal 2,5 tahun lalu. Ia merasa memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan ibu dan kedua adiknya yang masih sekolah. “Ibu enggak kerja. Di rumah ngurus adik. Kapok harus kembali masuk penjara, kasihan ibu di rumah,” sesalnya. (rik)

0 comments:

Posting Komentar